Hoja
Jauh di kedalaman tidur, mimpi kanak-kanakmu melekap, melekat, tak mau berpisah dari kisah-kisah masa lalu yang kelak enggan kauingat. Maka, mimpi kanak-kanak itu pun berpegang bergelantungan pada lengan Hoja, memaksa lelaki dari Akshehir itu tak balik pulang ke dunia nyata.
Namun Hoja, yang di dunia nyata memang kaukenal sebagai tukang cerita, seperti biasa, lugu berkata, “Lalu eh, bila selamanya aku berada di dalam mimpimu, bagaimana aku bisa dikenal sebagai Nasruddin?”
Kau pun tertegun, terdiam, tak bisa membantah Hoja. Maka, dengan perasaan sangat jengkel, engkau, engkau kanak-kanak itu, memutuskan untuk memilih hanya seratus dari lebih seribu kisah. Pekerjaan tak mudah. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, “si seratus” akhirnya terpilih; dan engkau pun remaja.






