Mukjizat

Puisi | Oleh Gus tf

Ilustrasi: Canva AI

Engkau bukan melihat mukjizat, melainkan mendengar atau membaca kisah mukjizat. Namun Darwin, dalam mimpi kanak-kanaknya, melihat Darwin dewasa mengamati dua ekor burung yang berasal dari dua pulau berbeda. Darwin kecil tahu kedua burung itu tak sama seperti halnya Darwin dewasa tahu kedua burung itu tidak berbeda.

“Orang yang tak percaya,” gumam Darwin dewasa, “tentulah akan berkata: Dua Pencipta telah bekerja.” Dan Darwin kecil, dengan perasaan kesal luar biasa, memberontak keluar dari mimpinya. Namun tak bisa. Tentu saja, karena kau tak menginginkannya. Karena mimpi kanak-kanak Darwin ada dalam mimpi kanak-kanakmu dan kau tak ingin Darwin terbangun untuk suatu hari sampai ke Galapagos.

Bersama Darwin kecil, engkau butuh perhitungan itu: berlari ke kedalaman laut, laut yang terbelah oleh tongkat Musa, Musa yang sama seperti yang dikisahkan Kitab; melompat ke kobaran api, api yang tak mampu membakar Ibrahim, Ibrahim yang sama seperti yang dikisahkan Kitab; menjelma jadi orang buta, orang buta yang disembuhkan Isa, Isa yang sama seperti yang dikisahkan Kitab.

Namun, belum sempat melakukan apa-apa, belum sempat melihat menyaksikan semua, di luar kuasamu engkau terbangun. Tak ada Darwin kecil. Tak ada Darwin dewasa. Yang ada hanya dirimu, diri yang tak lagi sama dengan dirimu yang tertidur satu jam lalu.

Scroll to Top