Gravitasi

Puisi | Oleh Gus tf

Ilustrasi: Canva AI

Empat belas tahun setelah Einstein meninggal, partikel subatomik ternyata masih bisa dibagi menjadi kuark dan gluon. Dalam mimpi kanak-kanakmu, kau melihat Einstein kecil duduk menunggang kuark, menggesek biola dengan kompas kantung diikatkan tergantung di leher biola.

Senarnya, tali gravitasi itu, bergetar, menggema halus ke lorong telinga. Kuark terus berputar mengelilingi gluon. Di lapis luar, elektron terus berputar mengelilingi kuark dan gluon. Semua berputar, semakin besar. Gravitasi menjulur, semakin lebar.

Dalam mimpi kanak-kanakmu itu engkau tertidur. Lalu terbangun dalam skema ini: Engkau, bersama Einstein, duduk menunggangi “sesuatu” berputar mengelilingi bumi. Terus berputar. Di lapis luar, “sesuatu” bersama bumi terus berputar mengililingi matahari. Terus berputar.

Di lapis luarnya lagi, “sesuatu” dan matahari terus berputar mengelilingi Bimasakti. Terus berputar. Di lapis luar-luarnya lagi, “sesuatu” dan Bimasakti terus berputar mengelilingi gugus galaksi. Terus berputar. Di lapis luar-luar-luarnya lagi, “sesuatu” dan gugus galaksi terus berputar mengelilingi … ah, tali gravitasi itu, getar yang semula halus mengelus telinga, perlahan meninggi, terus meninggi, dan lalu menghentak, nyaring, lengking, memekak bagai memecah gendang telinga. Semua gemetar.

Dengan mata kepala sendiri, engkau melihat jarum kompas kantung yang tergantung di leher biola Einstein seperti menggigil, lalu bergerak kacau tak tentu arah. Di satu titik, kompas itu meledak, hancur, bersama Einstein, bersama dirimu—bersama semesta, bersama mimpimu, dan lalu terbangun dalam mimpi kanak-kanak itu. Mimpi kanak-kanak yang, saat kau terbangun, kembali melihat Einstein kecil menggesek biola menunggang kuark.

Scroll to Top