Hoja

Puisi | Oleh Gus tf

Ilustrasi: Canva AI

Jauh di kedalaman tidur, mimpi kanak-kanakmu melekap, melekat, tak mau berpisah dari kisah-kisah masa lalu yang kelak enggan kauingat. Maka, mimpi kanak-kanak itu pun berpegang bergelantungan pada lengan Hoja, memaksa lelaki dari Akshehir itu tak balik pulang ke dunia nyata.

Namun Hoja, yang di dunia nyata memang kaukenal sebagai tukang cerita, seperti biasa, lugu berkata, “Lalu eh, bila selamanya aku berada di dalam mimpimu, bagaimana aku bisa dikenal sebagai Nasruddin?”

Kau pun tertegun, terdiam, tak bisa membantah Hoja. Maka, dengan perasaan sangat jengkel, engkau, engkau kanak-kanak itu, memutuskan untuk memilih hanya seratus dari lebih seribu kisah. Pekerjaan tak mudah. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, “si seratus” akhirnya terpilih; dan engkau pun remaja.

Saat kembali membaca “si seratus”, tak mudah bagi engkau remaja untuk menerima keseratus kisah itu, dan memutuskan untuk memilih hanya sepuluh. Pekerjaan yang tambah tak mudah. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, “si sepuluh” akhirnya terpilih; dan engkau pun dewasa.

Saat kembali membaca “si sepuluh”, tak mudah bagi engkau dewasa untuk menerima kesepuluh kisah itu, dan memutuskan untuk memilih hanya satu. Pekerjaan yang tambah-tambah tak mudah. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, “si satu” belum juga terpilih. Bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, “si satu” masih tetap belum terpilih.

Dan kau tiba-tiba sadar: telah tua. Dan, tak kalah jengkel dibanding ketika kau kanak-kanak dulu, engkau tua pun tak peduli. Lalu melupakan. Ditulis atau tidak, dikisahkan atau tidak, terserah Hoja.

Scroll to Top