Payakumbuh Poetry Festival (27—29 November 2025)

Menggali Dunia-Dunia yang Ada di dalam Puisi

Namal Siddiqui, penyair berdarah Pakistan, berkolaborasi
dengan Afdhal Zikri, musisi asal Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

“I prefer poetry,
where I have the freedom to imagine …”

Museum of Poetry (Namal Siddiqui)

Penggalan puisi karya penyair berdarah Pakistan tersebut seolah memantul-mantul di Agamjua Art and Culture Café, Payakumbuh. Ia membaca diiringi instrumen musik tradisional yang dimainkan oleh Afdhal Zikri, musisi asal Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

Tiga puluh menit keduanya berkolaborasi. Namal membacakan tiga puisi dari sehimpun yang akan terbit tahun depan. Afdhal dengan dikie pano dan sampelong. Keduanya bersambutan. Keduanya bersahutan. Penonton seperti terbius. Walau “bahasa” Namal dan Afdhal mungkin tidak sepenuhnya menembus batin. Terutama Namal, penyair yang besar di Dubai itu, banyak menceritakan tentang masalah sosial yang terjadi belakangan ini. Puisi baginya adalah cara untuk menyuarakan keresahan yang ia alami, yang ia lihat, dan menyampaikan dengan indah.

Dengan indah? Menyuarakan keresahan? Terdengar ironis. Seperti kata Namal, ia beruntung sekaligus “terkutuk” bisa menulis dalam bahasa Inggris. Sementara, di belahan hati lain, Urdu, bahasa ibunya, meminta porsi dalam desakan seperti gelombang laut.

Namun, begitulah puisi hadir. Bagaimana sajak-sajak yang dirangkai dengan estetika itu menduduki puncak dalam kesusastraan. Terkadang puisi terus melebarkan sayap “pantulan” tanpa perlu benar-benar mengerti apa isinya. Dengan landasan itulah, bagaimana Payakumbuh Poetry Festival (PPF) lahir.

Berangkat dari Puisi

Rabu tanggal 26 November 2025 itu, hujan masih mengguyur. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan, saya harap-harap cemas melihat ke arah gawai. Pagi itu, entah sudah berapa kali pesanan saya ditolak oleh taksi online.

Sepuluh menit kemudian, akhirnya saya bisa bernapas lega walau pakaian saya harus berakhir sedikit basah kala memindahkan barang-barang ke dalam bagasi Ayla. Pada saat yang sama, gawai saya berdering; mobil lain sudah menunggu saya.

Ketika jam menunjukkan pukul delapan pagi, saya telah berada di mobil lain dalam perjalanan menuju Kota Payakumbuh, tempat satu-satunya pagelaran festival puisi sebagai substansi utama di Indonesia secara konsisten diadakan: Payakumbuh Poetry Festival (PPF).

Festival ini awal mulanya digagas oleh teman-teman di Payakumbuh ketika pandemi covid-19 pada 2020 lalu. Roby Satria, direktur PPF mengatakan program pertama dari PPF hanyalah sayembara puisi nasional yang diinisiasi oleh Komunitas Tanah Rawa, sebuah komunitas sastra yang berada Payakumbuh. Salah satu penyair senior Sumatra Barat, Iyut Fitra, juga tergabung dalam komunitas ini.

Pelaksanaan program secara daring ini berlanjut hingga 2021, sampai kemudian tahun 2022 PPF terlaksana secara luring. Pada tahun itu, PPF mendapat dukungan dari salah seorang wakil rakyat, Supardi SH. Tahun 2023 PPF mengundang penyair tidak hanya dari Indonesia tapi juga dari Asia Tenggara, seperti dari Singapura, Filiphina, Thailand, dan Vietnam untuk ikut hadir memeriahkan PPF.

Acara PPF 2025 resmi dibuka pada 27 November 2025 pukul delapan malam oleh Mardion Fernandes anggota DPRD Kota Payakumbuh. Sebelum itu, acara diawali dengan alua pasambahan yang dibawakan oleh KAN Kelurahan Padang Tangah. Dua orang pemuka adat saling bersahut-sahutan membawakan petatah-petitih lalu menutupnya dengan mengunyah sirih pinang dalam carano.

Tidak seperti tari galombang atau tari pasambahan yang biasa dibawakan untuk menyambut tamu, tradisi lisan basilek lidah seperti ini umumnya digunakan untuk mengawali sebuah acara musyawarah yang sifatnya sakral atau acara besar. Bukan hanya itu, “Lebih cocok alua pasambahan,” ujar Roby, “karena itu puisi tradisi.”

Dari pembukaan, hal tersebut sudah mencerminkan tema PPF tahun ini “Antardunia dalam Puisi”, yakni menggali dunia-dunia yang ada di dalam puisi. Panitia berupaya khusus mengangkat khazanah puisi. Apa pun bentuk pertunjukan atau luaran dari gelaran festival atau program-program yang ada di dalam festival, selalu berkaitan atau berangkat dari puisi. Baik itu puisi dalam pengertian tradisional syair-syair tradisional Minangkabau ataupun lanskap perpuisian modern Indonesia saat ini.

PPF mencoba membuka ruang-ruang kemungkinan puisi tidak hanya berupa teks, melainkan alih wahana seperti sound poetry dan visual poetry. Itu seperti alas utama. Keduanya diselenggarakan terlebih dahulu sebagai prafestival. Bentuknya workshop yang dilaksanakan pada 19—21 November 2025 di Padang.

Dalam diskusi “antardunia dalam puisi” bersama Donny Eros dan Roma Kyo Kae Saniro, puisi, visual, dan seni pertunjukan bukan hanya bentuk hiburan, tetapi juga ruang belajar yang membantu generasi muda mengembangkan kreativitas, keberanian, dan cara berpikir yang lebih luas. Kegiatan ini mengingatkan kita bahwa seni adalah bagian penting dari kehidupan generasi muda. Seni membantu kita melihat dunia dari sudut pandang yang lebih dalam, memahami perbedaan, serta mengekspresikan diri dengan cara yang sehat dan bermakna.

Workshop” Puisi, Diskusi Puisi, dan Baca Puisi

Pada hari kedua dan ketiga, PPF juga menggelar workshop penulisan puisi untuk pelajar se-Kota Payakumbuh bersama pemenang sayembara manuskrip puisi PPF; diskusi puisi, anak, dan pendidikan di luar sekolah; diskusi buku puisi pilihan PPF (LS) Kutu-Kutu Joni; diskusi antardunia dalam puisi; diskusi buku puisi pilihan PPF Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan; dan terakhir diskusi pertanggungjawaban dewan juri.

Pada awalnya untuk workshop, panitia menjadwalkan kelima pemenang sayembara manuskrip terbaik melaksanakan workshop di sekolah menengah atas yang sudah ditentukan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, karena bencana yang terjadi di Sumatra Barat akibat cuaca buruk, agenda terpaksa dibatalkan karena keempat pemenang sayembara selain Badrul Munir Chair terjebak di Padang. Untuk menyiasati hal tersebut, panitia mengubah pola workshop, bukan lagi mendatangi sekolah-sekolah. Akan tetapi beberapa perwakilan dari masing-masing sekolah datang ke Agamjua. Lantas peserta lainnya tergabung dalam diskusi via zoom.

Diskusi workshop ini berlangsung seru. Peserta diskusi terlihat antusias ketika sesi tanya jawab dibuka. Dipandu oleh Randi Reimana dengan Badrul Munir Chair sebagai narasumber, ada 27 pertanyaan yang langsung dijawab oleh Badrul. Peserta begitu senang dengan adanya program ini, salah seorangnya adalah Izzatun Nafsiah, siswa asal SMA N 1 Payakumbuh. Dari wawancara, Izza—demikian ia biasa dipanggil—mengungkapkan bahwa ia baru sadar menulis tidaklah semudah kelihatannya. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, melalui workshop ini Izza jadi paham cara menangkap celah untuk diolah menjadi tulisan.

Diskusi “Puisi, Anak, dan Pendidikan di Luar Sekolah” tak kalah menariknya. Dipandu pustakawan Nisya Tri Yolanda dengan dua narasumber: Yona Primadesi, seorang akademisi dan praktisi di bidang sastra khususnya di bidang literatur anak dan remaja dan Della Nasution, pekerja seni di bidang teater yang hadir secara langsung karena berdomisili di Payakumbuh.

Menurut Yona, anak-anak cenderung melihat secara jernih fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar mereka. Dengan demikian, metode yang bisa dilakukan untuk mengajar anak-anak dalam menulis adalah dengan observasi lapangan. Misalnya, mengajak anak-anak ke suatu tempat, entah itu pasar atau hutan. Sepulangnya dari sana, kita bisa minta mereka menceritakan apa yang mereka saksikan dan dari situlah kemudian cerita anak-anak akan lahir. Kepolosan ini dipandang sebagai salah satu metode paling efektif untuk memancing cara berpikir kritis dan daya imajinasi anak-anak dengan sederhana. Secara tidak langsung, dengan pendidikan di luar sekolah.

Alih Wahana “Sound Poetry” dan “Visual Poetry”

Dalam PPF 2025, juga ditampilkan video alih wahana sound poetry dan visual poetry terbaik. Video ini bertujuan memperkenalkan kepada publik bentuk lain dari alih wahana puisi yang selama ini jarang diperbincangkan. Sebuah upaya kreatif mengeksplorasi dunia yang ada dalam puisi. Sebagaimana sound poetry yang mengedepankan bunyi dan ritme dalam ekspresinya, tentu hal menarik diperkenalkan kepada publik yang hadir pada PPF 2025.

Sound poetry kerap kali memakai kata yang terkesan tidak bermakna atau diucapkan secara tidak jelas demi membangkitkan emosi. Setidaknya, hal ini sebuah wahana baru yang perlu mendapat apresiasi dari masyarakat melalui PPF ini.

Dramatisasi puisi oleh anak-anak Komunitas Seni Intro.

Demikian juga dengan visual poetry, yang merupakan gabungan teks dan visual yang menjadi sumber pemaknaan. Di sini masyarakat akan diperkenalkan kepada teks yang dibentuk menjadi objek visual. Hal yang selama ini sebenarnya sudah lama dikenal, dalam budaya Arab disebut kaligrafi, di budaya Barat kaligram. Sudah sejak lama sekali, berabad-abad lalu.

Walaupun sebagian besar penonton merasa asing dan bingung, dengan kening berkerut mereka tetap menikmati sambil berpikir dan dibuat bertanya. Salah seorang penonton, Dandri, terdengar berkata kepada kawannya, “Puisi apa ini sebenarnya?”

Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan dramatisasi puisi oleh anak-anak dari Komunitas Seni Intro Payakumbuh. Lalu, para pemenang juga membacakan puisi masing-masing yang termuat dalam manuskrip puisi yang mereka kirimkan.

“Volunteer” Nyawa Festival

Namal sebenarnya memiliki diskusi sendiri. Namun, melihat laku cuaca, panitia menyiapkan siniar untuk antisipasi. Kurator PPF, S Metron Masdison, menjadi penanya. Semestinya Zulkifli Sangroyan dari Tim Penguatan Festival sebagai moderator. Pesertanya komunitas yang ada di Kota Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota, Kota Bukittinggi, dan Kabupaten Agam. Akan tetapi, situasi menginginkan seberapa beras ada, itulah yang akan dimasak. Temanya tetap: Tata Kelola Ekosistem Festival.

Pertanyaan penting Metron adalah jika Namal jadi kurator, program spesial apa yang akan disiapkannya. “Oh, that question,” ujarnya sembari tersenyum. Itu memang pertanyaan ulangan. Rekaman pertama sempat gagal. Audio menghilang di komputer master. Sabtu sore nan cerah itu, pengambilan ulang dilakukan.

Ia membayangkan PPF mengajak generasi muda untuk duduk bersama. Membincangkan apa yang dibayangkan mereka. Bisa lewat diksusi, workshop atau konferensi. “Kamu punya tempat. Adakan acara sekali sebulan. Keluarkan makanan tradisi yang sangat enak itu. Ajak beberapa orang baca puisi dan seterusnya.”

Dan yang terngiang berikutnya adalah ketika Namal bilang, “Volunteer, Metron. Cari sebanyak-banyaknya. Karena itulah nyawa festival.”

Jadi, sampai bertemu di PPF 2026. ***

Bunga Suci Pertiwi, senang menulis esai, naratologi,
meneliti habitus dan arena dalam kesusastraan.

*) Tulisan ini pernah dimuat di cagak.id, 8 Desember 2025.

Scroll to Top