Ybh. “Estetika Lokal”,
pertama maafkanlah saya yang telah menempatkan Anda dalam tanda petik. Anda berhak heran dan kecewa karena, setelah semua yang selama ini Anda terima, ada entitas yang meragui Anda. Seperti apakah keterkejutan Anda kalau saya katakan bahwa, sebenarnya, keraguan itu sudah ada sejak lama?
Sebelumnya baiklah saya perkenalkan diri, nama saya Sastra. Itulah sebabnya tadi saya katakan entitas, suatu kesatuan yang lahir, yang sungguh-sungguh ada; tentu saja untuk membedakan dari (sekadar) orang atau apa pun yang diikat oleh ketentuan hidup-mati, ada-tak ada. Namun baiklah pula entitas kita ganti dengan teks, karena teks langsung membungkus entitas dengan seperangkat sistem dan, tentu pula, isi.
Jadi ya, teks Sastra, begitulah saya disebut—seperti kalau juga menyebut yang lain: teks Agama, teks Filsafat, teks Sains, dan seterusnya. Dan sesungguhnya pula, Anda dan saya sering bertemu. Namun itulah, karena ada sesuatu dalam diri Anda yang tak berterima pada diri saya, kebertemuan kita berlangsung tanpa sapa. Bagaimana takkan tanpa sapa kalau sebenarnya kita asing satu sama lain?
Mari kita kembali, ke keraguan itu. Harus saya katakan, ganjil bagi saya kata estetika bergabung dengan kata lokal. Estetika, seperti kita pahami, tak lain urusan emosi dan pikiran dalam hubungannya dengan keindahan. Ia terlepas dari pertimbangan moral, sosial, politik, ekonomi, dan entah apa lagi yang membuatnya hanya jadi bagian dari salah satu dan tidak bagi yang lain. Sementara lokal, justru sebaliknya, berurusan dengan ukuran (pertimbangan) sejauh mana ia menjadi dan diikat oleh sesuatu. Nah, kontradiksi inilah cikal soalnya.
Ybh. “Estetika Lokal”,
saya bersetuju dengan sebagian (sebelah) diri Anda, yakni estetika. Namun, sebelum saya kemukakan kenapa setuju, baiklah saya ceritakan lagi lebih jauh siapa saya, jati diri saya.
Ingin saya katakan, saya sangat berbeda, bahkan bertolak-belakang, dibanding teks lain. Jika semua perangkat sistem pada teks lain bekerja dalam kerangka acuan menjadi ada, sebaliknya seluruh perangkat saya direpotkan oleh persoalan bagaimana menjadi tak ada. Di telinga modern anda yang terbiasa dengan sifat guna dan kepraktisan, menjadi tak ada akan terdengar ganjil. Namun bagi saya yang tak berada dalam posisi “memberi”; karena sejatinya memang hanya “pembangkit”, menjadi tak ada adalah keharusan.
Menjadi tak ada di sini jelas maksudnya bukanlah nol, nihil, ataupun kosong. Lazimnya sebuah perangkat tentu saja ia hanya cara kerja khas, konsekuensi dari apa yang disebut ‘menempatkan pembaca sebagai subjek’. Hanya dengan menjadi tak adalah saya bisa memosisikan pembaca sedemikian rupa, jadi penuh dengan dirinya, dengan dunia dan cara pandangnya. Nah, di tingkat (tahap) inilah saya bersetuju dan bahkan lalu bersekutu dengan estetika, sekaligus tak berterima dengan lokal.
Karena kemampuannya berdiri di sembarang teks, estetika menjadikan saya “terberi” ke dalam subjek apa pun itu latar subjeknya. Sementara lokal, karena sifatnya yang keras sebagai sesuatu, urusannya tak lain kecuali “memberi”; sesuatu yang karena satu dan lain hal bisa saja ditolak subjek, tak lain karena setiap subjek pada hakikatnya bukankah memang punya kosmologi atau jagat makna sendiri?
Dalam diri saya, estetika tentu bukan hanya satu-satunya. Untuk keterberian, karena merupakan entitas literer, tentu saja saya bekerja dengan (karakter) bahasa (metaforis dan figuratif) yang memungkinkan terjadinya komunikasi semantik. Semacam komunikasi di mana saya tak lebih cuma media bagi subjek untuk mengaksentuasi dan “menemukan” diri. Namun harus cepat digarisbawahi, untuk bisa berkomunikasi dan menampung aksentuasi subjek, saya mesti selalu tumbuh jadi entitas yang kalau tak cerdas setidaknya berwawasan.
Ybh. “Estetika Lokal”,
membangkitkan dan memberi, inilah kiranya dua kata kunci gampang yang mampu menjelaskan kenapa kita tak saling sapa. Keniscayaan memberi dalam lokal Anda akan menjelmakan estetika jadi estetifikasi. Suatu keadaan di mana lokal mendahului kultur, yang kalau lokal dimisalkan teks Etnis, tak bisa tidak, akan menjelmakan etnis jadi etnosentrisme. Bagaimana saya bisa membangkitkan subjek kalau saya, teks Sastra ini, adalah ketertutupan?
Secara gampang pula bisa dikatakan, setiap teks yang berkerangka acuan menjadi ada selalu menekankan titik pandang sendiri. Bila kita berkeras saling sapa dan teks lokal Anda atau teks apa pun saya terima, maka inilah yang terjadi: ukuran saya berubah, baik-buruk saya berubah, sifat saya berubah. Dengan kata lain, saya lenyap, karena jati diri saya sudah tak ada. Harus dibikin jelas: kita mau melahirkan Sastra atau membunuhnya? Mari jujur: bila memang tak memaksudkan untuk Sastra, kenapa kita menulis Sastra?
Ybh. “Estetika Lokal”,
harus juga saya sampaikan, kasus ini terjadi bukan hanya antara saya dengan Anda. Hal serupa terjadi pula antara saya dengan bermacam teks. Sejak mula, ketika bahasa diletakkan sebagai salah satu entitas “perjuangan” bangsa, sejak itu pula teks lain bagai wajar muncul meringkus saya. Lalu sesudahnya, Anda lihatlah saya, teks Sastra, baru akan berarti bila: mampu mengangkat dan menyampaikan masalah-masalah sosial; secara tegas berpihak pada rakyat dan mengabdi kepada rakyat; bisa jadi pedoman, tuntunan tingkah laku sehari-hari; melakukan perlawanan terhadap tekanan, otoritas kekuasaan, dan seterusnya, dan sebagainya. Atas semua ini, apa yang bisa saya katakan kecuali bahwa saya telah jadi alat untuk lain kepentingan?
Kepentingan, ya, inilah inti soalnya. Semua akan biasa, wajar-wajar saja, bila semua teks berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan teks lain. Keadaan akan berbeda, berkembang jadi tak normal bila sebuah teks—demi fungsinya—melakukan intervensi atas teks lain. Harus pula buru-buru dikatakan bahwa apa pun teks tentu tak mungkin berdiri sendiri. Akan selalu ada tingkat di mana satu teks berhubungan dengan teks lain. Dan bila itu terjadi, keniscayaannya adalah: arogansi teks, katakanlah begitu, harus merendah. Dengan kalimat gamblang, sebuah teks bisa menggunakan (membutuhkan) teks lain hanya bila teks itu bekerja dalam ukuran atau sifat-sifat teks yang digunakan (dibutuhkan).
Tak kurang tak lebih, itu jugalah yang mestinya terjadi pada saya. Untuk melahirkan, membangun apa yang disebut ‘sebuah dunia utuh’, apa pun teks sangat mungkin masuk ke tubuh saya (telah saya singgung tadi soal keharusan berwawasan, bukan?). Akan tetapi untuk bisa masuk, tak lain memang beginilah: teks lain harus luruh, cair, lesap, sehingga yang terlihat dan tampak tetap adalah saya, teks Sastra.
Ybh. “Estetika Lokal”,
saya kira, kini, Anda telah kenal saya. Maka cukuplah. Apakah setelah ini kita akan masih asing satu sama lain, semua terserah Anda. Karena kini Anda tahu: betapa gampangnya menyapa—masuk ke tubuh saya. Dengan luruh, cair, lesap, cukuplah.
Atau, dengan gamblang: lenyapkanlah arogansi kelokalan Anda. []
Hormat saya,
Teks Sastra
*) Tulisan ini pernah disampaikan penulisnya pada Kongres Cerpen Indonesia IV yang diselenggarakan di Pekanbaru, Riau, 26—30 November 2005 dan dimuat Suara Merdeka, 8 Januari 2006.


