
Apa yang sering menjadi ciri mimpi kanak-kanakmu, saat kau memikirkan dan merasa aneh bertahun-tahun kemudian, adalah tempat-tempat yang jauh dan tak terjangkau oleh perjalanan.
Orang-orang yang kautemu juga bukan orang-orang yang kaukenal di masa kini, melainkan orang-orang dari masa lalu yang bahkan nama mereka pun adalah nama-nama kecil yang tak pernah kaudengar atau ketika itu belum kautahu.
Begitu pulalah, di bukit asing itu, kau bertemu Zong Ni, yang dalam bahasa setempat berarti “putra kedua dari Bukit Ni”. Sebuah pertemuan singkat. Dalam mimpi yang juga singkat.
Kau diberi dua kata, atau tepatnya sepasang kata yang, karena mimpi itu begitu singkatnya, kau hanya bisa membaca: jen–li, tanpa sempat bertanya apa artinya. Dan sayangnya pula, begitu kau terbangun, kau bukan terbangun ke dunia nyata, melainkan ke dalam mimpi kanak-kanak lain.
Dan memang, demikian pulalah yang sering terjadi. Mimpi kanak-kanakmu adalah mimpi dalam mimpi. Bahkan pernah mimpi dalam mimpi dalam mimpi. Kata jen dan li itu pun lalu hilang. Sampai lama. Sampai bisa dipastikan kau telah lupa andai saja kata-kata itu, suatu hari, tak kembali muncul dalam mimpi kanak-kanakmu yang lain.
Namun, itu sungguh mimpi yang aneh. Engkau menyebutnya “mimpi salah tempat”. Tempat asing juga. Tempat jauh juga. Tetapi itu adalah tempat dewa-dewi. Tempat yang setiap kelahiran diiringi angsa-angsa bernyanyi atau, bila tidak, ditandai dengan kilatan petir yang menyambar dari angkasa ke bumi.
Dan sepasang kata itu, jen–li itu, meluncur keluar dari mulut Isis, dewi “Ibu atas Segala Sesuatu”, “Dewi Penyembuh” untuk hidup yang kekal; ibu semua unsur, yang sulung dari segala dunia.

