Si Pemburu dan si Bungsu

Cerpen | Oleh Casper Aliandu

Ilustrasi: Canva AI

Hiduplah pada waktu itu seorang yang bernama Bunanggo Subang. Ia ahli dalam berburu kuwe (kasuari). Suatu saat, ia memakan bagian lutut kuwe. Tiba-tiba ia merasa mual, lalu muntah. Namun, yang keluar dari perutnya ternyata adalah kau (buah gatal). Buah itu jatuh ke tanah. Setelah itu tumbuh tunas pohon kau. Seiring waktu, pohon kau berbuah banyak.

Langit sore berwarna merah menyala. Bunanggo Subang tiba-tiba mendengar suara berisik di sekitar pohon kau. Namun ia tak menghiraukan. Dalam benaknya ia mengira itu mungkin kaluang (kelelawar) yang sedang mencari makan. Saat malam tiba, Bunanggo Subang memasang perangkap di pohon kau. Ia berharap bisa menangkap dan memakan kaluang itu. Namun, ternyata ia keliru. Suara berisik itu bukan kaluang, melainkan amgi efesi, sebutan untuk manusia atau agu yobu perempuan.

Keesokkan harinya pada waktu yang sama, datanglah lima amgi efesi.

Bunanggo Subang sudah menyiapkan busur. Ketika Bunanggo Subang telah sampai di dekat pohon kau, para amgi efesi itu beterbangan. Namun ada satu amgi efesi paling bungsu yang panik dan tersangkut di perangkap yang dibuat Bunanggo Subang pada malam sebelumnya.

Dengan sigap panah Bunanggo Subang menghantam tepat di dada kanan amgi efesi bungsu. Amgi efesi itu jatuh terkapar.

“Tolong jangan bunuh aku. Aku hanya sedang mencari makan,” ucap amgi efesi itu.

 Bunanggo Subang mendekat dan melihat mangsanya itu lebih jelas. Ternyata bukan kaluang seperti sangkanya. Sebab kalau kaluang tentu tidak mungkin bisa berbicara.

“Aku tidak akan membunuhmu apalagi memakanmu,” ucap Bunanggo Subang sambil mengangkat tubuh amgi efesi itu.

Bunanggo Subang mengobati luka si amgi efesi dan membiarkan amgi efesi itu terbang.

“Terima kasih, kau tidak membunuhku. Aku harus segera pulang. Pasti keempat saudariku cemas menunggu aku,” katanya.

“Ah, tinggallah di sini bersamaku,” pinta Bunango Subang.

“Maafkan, aku tak bisa. Namun, kau bisa bertemu aku lagi. Untuk itu, kauharus melewati lima hoimagabahasi (raksasa) terlebih dahulu. Setelah berhasil kauatasi itu, tempat selanjutnya merupakan daerah kekuasaan kami. Kami tinggal di sebuah pohon besar yang ranting-rantingnya telah mencapai langit,” jelas si amgi efesi.

 “Baiklah, silakan kaupulang. Pulanglah dengan hati-hati. Aku pasti akan berkunjung ke tempatmu,” kata Bunanggo Subang.

***

Kepakan sayap amgi efesi bungsu perlahan menghilang dari pandangan Bunanggo Subang. Kini, pohon kau telah mulai berbuah lagi. Bunanggo Subang berencana pergi ke tempat amgi efesi. Ia ingin menyampaikan bahwa mereka bisa datang lagi memetik buah kau.

 Seperti yang dikatakan Amgi Efesi Bungsu, Bunanggo Subang melihat hoimagabahasi.  Hoimagabahasi memiliki dua anak perempuan, Amgi Efesi Kamisige dan Amgi Efesi Koyomisi. Konon diceritakan, siapa saja yang melewati tempat hoimagabahasi pasti mati. Sebab hoimagabahasi membuat sebuah liang yang sangat dalam dan siapa saja yang masuk ke liang itu tidak dapat keluar dan akan mati di tempat itu lalu dimakan oleh hoimagabahasi.

“Amgi Efesi Kamisige, cepat bangun! Sepertinya makanan kesukaan kita datang,” pinta Hoimagabahasi.

“Di manakah makanan itu, Nabo (Bapa)?”

“Dia ada di balik pepohonan.”

Amgi Efesi Kamisige pun bangun dan mengajak Amgi Efesi Koyomisi bergerak menuju pohon tempat persembunyian Bunanggo Subang.

“Siapakah engkau yang berada di balik pohon?” tanya Amgi Efesi Koyomisi.

“Maaf, namaku Bunanggo Subang. Aku ingin pergi ke busuh (kampung) sebelah untuk bertemu temanku. Tadi aku melihat hoimagabahasi. Aku takut sehingga bersembunyi di balik pohon ini. Lagi pula, hari sudah gelap. Kuputuskan beristirahat di sini dan besok pagi melanjutkan perjalanan.”

Amgi Efesi Koyomisi berbisik kepada kakaknya:

“Kakak, sepertinya ia cukup baik untuk dimakan. Bagaimana kalau kita menggoda dan mengajaknya ke tempat peristirahatan kita? Setelah ia terlelap, kita membunuhnya,” kata si adik.

Amgi Efesi Kamisige menyetujui ajakan adiknya. Mereka mulai menggoda Bunanggo Subang.

“Bunanggo Subang, tidak baik bermalam sendirian di balik pohon. Sebentar lagi hujan akan turun. Nanti kau bisa kedinginan,” kata salah seorang dari amgi fefesi itu.

“Tidak apa-apa. Aku di sini saja. Aku sudah biasa kedinginan ketika hujan mengguyur tubuhku.”

“Jangan malu, Bunanggo Subang. Kami tahu engkau juga pasti lapar. Menginaplah di tempat kami. Tempat kami tidak jauh dari sini.”

Mereka memaksa terus-menerus. Bunanggo Subang menjadi luluh. Apalagi memang harus diakui ia begitu lapar. Sesampai di tempat mereka, Bunanggo Subang disajikan aneka  makanan. Ia makan sampai kenyang.

“Aku mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan kalian ini,” kata Bunanggo Subang.

“Sama-sama, Bunanggo Subang.”

“Ah, tapi aku ingin bertanya. Mengapa di tengah hutan yang sepi ini dan ada hoimagabahasi, kalian masih tetap aman?” tanya Bunanggo Subang.

 “Kami selalu bersembunyi dan hoimagabahasi tidak pernah mengetahui tempat ini,” jawab mereka berbohong.

“Lalu, itu ada lubang yang sangat besar di depan tempat kalian ini, itu untuk apa?”

“Oh, itu untuk menyimpan hasil perburuan kami. Kami simpan di sana sekalian dalam jumlah banyak, agar kami tak perlu sering keluar dari tempat ini. Kami tak ingin bertemu hoimaganahasi. Kau sebaiknya tidurlah. Besok kau harus melanjutkan perjalanan,” nasihat  salah seorang perempuan itu.

Bunanggo Subang pun berbaring. Namun ia tidak sepenuhnya terlelap sebab ada banyak tanda tanya di kepalanya. Di tempat ia tinggal perempuan tidak berburu. Apalagi Bunanggo Subang juga tahu, dua perempuan ini tidak menyimpan busur dan anak panah. Lalu, liang yang besar itu, tidak mungkin dibuat oleh perempuan.

Tiba-tiba Bunanggo Subang merasa tanah bergetar. Pepohonan juga bergerak-gerak. Meski memang sedang hujan, tetapi tak ada angin. Ternyata hoimaganahasi yang datang. Bunanggo Subang cepat bangun. Namun Amgi Efesi Kamisige dan Amgi Efesi Koyomisi langsung menangkapnya. Bunanggo Subang tak kalah sigap. Ia menikam kedua perempuan itu dengan dibito (tombak).

Bunanggo Subang lalu melarikan diri. Pada saat itu Hoimagabahasi masuk. Didapatinya kedua anaknya terkapar menunggu kematian. Hoimagabahasi sangat marah. Ia pun mengejar Bunanggo Subang. Namun, karena gelapnya malam dan hujan yang semakin deras, Hoimagabahasi jadi lambat langkahnya. Bunanggo Subang berlari lebih cepat. Ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu ketika berburu. Bunanggo Subang lolos dari kematian.

Meski telah lolos dari kejaran Hoimagabahasi, ia masih berada di wilayah kekuasaan keempat hoimagabahasi yang tersisa. Bunanggo Subang sangat berhati-hati dan tak pernah tidur terlelap jika malam tiba. Kadang ia melihat hoimagabahasi, lalu ia cepat sembunyi dan mengoleskan tubuhnya dengan lumpur untuk mengelabui penciuman hoimagabahasi. Siasat yang dilakukan Bunanggo Subang cukup mampu membuat ia keluar dari wilayah dan lepas dari kejaran keempat hoimagabahasi yang tersisa itu.

***

Matahari menampakkan diri. Awan begitu putih. Langit abu-abu menjadi biru berseri. Setelah berjalan cukup jauh, Bunanggo Subang akhirnya sampai ke busuh wilayah Amgi Efesi Bungsu.

Orang yang pertama dilihat Bunanggo Subang adalah seorang laki-laki, pemimpin dari para laki-laki busahang makio (manusia yang tinggal di daratan dan bersahabat dengan hutan). Laki-laki pemimpin itu dipanggil odukake subang, panggilan yang punya makna atau arti berkebalikan dari panggilan hose subang.

“Odukake Subang, mengapa para laki-laki busahang makio begitu ramai di tempat ini?” tanya Bunanggo Subang.

“Ah, nangge, siapa namamu? Kami sedang berusaha menangkap amgi efesi untuk mengawininya.”

“Bunanggo Subang.”

“Untuk apa kau juga ada di sini?”

“Ah, aku juga sedang mencari amgi efesi. Dia temanku.”

“Kalau begitu coba kaupanjat pohon wiri (sejenis pohon pinang) itu. Sejak tadi kami telah berusaha mencarinya, tetapi tidak ada yang berhasil. Siapa tahu kau yang berhasil menemukannya, Bunanggo Subang.”

Bunanggo Subang pun mencoba memanjat pohon wiri itu. Sesampainya di pucuk pohon wiri, Amgi Efesi Bungsu ternyata memang ada di sana bersama denga saudara-saudaranya yang lain. Ia kaget melihat Bunanggo Subang bisa sampai ke tempat tinggalnya. Ia pun langsung terbang menghampiri Bunanggo Subang.

“Amgi Efesi Bungsu, seperti janjiku, aku datang menemuimu.”

“Oh, Bunanggo Subang, cepatlah masuk ke sini ke dalam rumahku.”

“Siapakah orang ini, Amgi Efesi Bungsu?” tanya para saudara Amgi Efesi Bungsu.

“Ini Bunanggo Subang, pemilik pohon kau. Ia-lah yang melepasku saat aku terperangkap dalam jeratnya.”

“Kami mengucapkan terima kasih, Bunanggo Subang. Kau tidak membunuh adik kami. Lalu, ada tujuan apakah kaudatang ke mari?” tanya salah seorang amgi afesi.

“Aku hanya ingin menyampaikan bahwa pohon kau sudah berbuah banyak. Kalian bisa datang lagi ke tempatku.”

“Kami memang ingin terbang ke tempatmu untuk mendapat buah kau, tetapi seperti kaulihat sendiri, para laki-laki busahang makio beserta Odukake Subang sedang berusaha mencari kami. Mereka akan memaksa kami agar kawin dengan mereka. Mereka itu kejam, pemakan daging manusia. Kami takut ketika kami kawin dengan mereka, mereka akan membunuh dan memakan kami.”

Sementara itu, Odukake Subang dan para pengikutnya masih terus berusaha memanjat pohon wiri itu. Namun tetap saja mereka tidak berhasil mencapai puncak. Sebab, ketika mereka sudah mencapai pucuk, amgi efesi yang lain akan menggoyang-goyangkan pohon itu sehingga mereka jatuh.

“Bunanggo Subaaang …! Cepat turunkan amgi efesi yang lain agar kami juga mendapat bagian,” teriak Odukake Subang dari bawah pohon wiri.

“Tidak bisa. Mereka tidak mau kawin dengan kalian. Mereka benci sifat jahat kalian karena kalian itu manusia yang memakan manusia. Buanglah sifat itu, maka kalian akan bisa  mendapatkan salah satu amgi efesi.

***

Bunanggo Subang lalu kawin dengan Amgi Efesi Bungsu dan juga saudaranya, Amgi Efesi Sianggre. Sedangkan tiga amgi efesi yang lain dianggap sebagai kakak ipar. Mengetahui hal itu, Odukake Subang menaruh rasa iri dan punya rencana buruk.

Suatu ketika saat Bunanggo Subang turun untuk berburu, Odukake Subang telah memasang waya (perangkap untuk babi) di jalan yang akan dilalui Bunanggo Subang. Sial, tak bisa dihindari, saat Bunanggo Subang lewat di jalan itu ia terkena waya. Odukake Subang langsung menebang pohon besar untuk menutup waya agar Bunanggo Subang tidak dapat keluar. Kali ini Bunanggo Subang tak seberuntung seperti ketika melewati liang besar hoimagabahasi.

***

Suatu hari ada sepasang kakak-beradik bernama Neiyo dan Siyahe mencari makan dan sampailah mereka di sekitar waya itu. Mereka lalu melihat Bunanggo Subang yang tertutup pohon besar dan terperangkap di dalam waya. Mereka lalu melepaskannya dari waya. Badan Bunanggo Subang tampak kurus dan lemah karena terperangkap begitu lama. Neiyo dan Siyahe lalu merawat dan memberinya makan. Akhirnya Bunanggo Subang kembali sehat seperti semula. Bunanggo Subang lalu menceritakan kepada mereka mengapa ia sampai terperangkap ke waya itu.

“Ambillah busur dan anak panah ini, Bunanggo Subang. Amgi Efesi Bungsu pasti  sudah lama mencari-carimu. Pulanglah dan tunjukkan dirimu agar ia tak bersedih lagi,” tutur Neiyo.

“Terima kasih, Neiyo dan Siyahe. Suatu saat aku akan membalas kebaikan kalian.”

“Balaslah dendammu kepada Odukake. Ia bukan seorang pemimpin yang seharusnya memiliki sikap-sikap baik,” kata Siyahe.

Bunanggo Subang pun pamit dan pulang ke Amgi Efesi Bungsu. Sesampai di tempat  tinggal mereka, Amgi Efesi Bungsu mendekap Bunanggo Subang karena kerinduan yang dalam. Semua menyambut kepulangan Bunanggo Subang dengan penuh sukacita.

“Di mana saja kau selama ini?”

“Aku terperangkap dalam waya yang dibuat Odukake Subang.”

“Kurang ajar Odukake Subang! Kita harus membalasnya. Ia juga masih sering datang mengganggu kami,” cerita Amgi Efesi Bungsu.

Amgi Efesi Bungsu lalu terbang menuju tempat tinggal Odukake Subang. Odukake Subang pun keluar saat Amgi Efesi Bungsu datang. Ia menyangka Amgi Efesi Bungsu datang sendirian, padahal ada Bunanggo Subang di belakangnya. Bunanggo Subang mengikuti ke mana Amgi Efesi Bungsu terbang.

Tak disadari Odukake Subang, ia makin dekat dengan Bunanggo Subang yang sudah siap dengan senjatanya. Dengan cepat Bunanggo Subang menikam Odukake Subang, tepat di jantung. Odukake Subang langsung mati terkapar. Bunanggo Subang meniup bah (terompet bambu). Neiyo dan Siyahe mendengar suara bah yang ditiup Bunanggo Subang.

“Neiyo dan Siyahe, ini Odukake Subang yang dulu memerangkap aku. Potonglah ia dan bagilah kepada siapa saja yang hendak memakannya. Ini adalah ucapan rasa terima kasihku karena kalian berdua telah menolongku waktu itu.”

Neiyo dan Siyahe mengambil sedikit potongan tubuh Odukake Subang dan kepalanya. Sedangkan bagian tubuh yang lain mereka lemparkan untuk hewan-hewan buas di hutan itu.

Bunanggo Subang dan Amgi Efesi Bungsu pun kembali ke tempat tinggal mereka, melanjutkan hidup sampai tanah memanggil mereka pulang.

Scroll to Top