Si Pemburu dan si Bungsu
Hiduplah pada waktu itu seorang yang bernama Bunanggo Subang. Ia ahli dalam berburu kuwe (kasuari). Suatu saat, ia memakan bagian lutut kuwe. Tiba-tiba ia merasa mual, lalu muntah. Namun, yang keluar dari perutnya ternyata adalah kau (buah gatal). Buah itu jatuh ke tanah. Setelah itu tumbuh tunas pohon kau. Seiring waktu, pohon kau berbuah banyak.
Langit sore berwarna merah menyala. Bunanggo Subang tiba-tiba mendengar suara berisik di sekitar pohon kau. Namun ia tak menghiraukan. Dalam benaknya ia mengira itu mungkin kaluang (kelelawar) yang sedang mencari makan. Saat malam tiba, Bunanggo Subang memasang perangkap di pohon kau. Ia berharap bisa menangkap dan memakan kaluang itu. Namun, ternyata ia keliru. Suara berisik itu bukan kaluang, melainkan amgi efesi, sebutan untuk manusia atau agu yobu perempuan.
Keesokkan harinya pada waktu yang sama, datanglah lima amgi efesi.
Bunanggo Subang sudah menyiapkan busur. Ketika Bunanggo Subang telah sampai di dekat pohon kau, para amgi efesi itu beterbangan. Namun ada satu amgi efesi paling bungsu yang panik dan tersangkut di perangkap yang dibuat Bunanggo Subang pada malam sebelumnya.


