Festival Babilon untuk Budaya dan Seni Internasional (21—29 Maret 2014)
Puisi, Kesedihan, dan Gairah

Seorang guru meminta siswa menggambar sesuai yang mereka sukai/anak seorang kepala sekolah menggambar mobil Chevrolet baru/anak pengusaha perumahan menggambar sebuah kompleks pasar dan hotel/anak anggota partai politik menggambar sebuah mobil lapis baja/seorang murid perempuan anak loper koran menggambar sepotong roti.
(Puisi penyair Irak, Lateef Helmet)
Kemiskinan, mobil lapis baja, blokade kawat berduri, dan regu pengaman dengan senjata siap di tangan, bersanding erat pada perhelatan acara festival budaya di Babilonia akhir Maret lalu. Puisi lainnya lebih getir, juga dari penyair Irak:
Laut merenggut mimpi kita/mengemasnya dalam tangisan/hidup terasa bagai daun layu/yang dipanggang sengat matahari/hingga hangus terbakar/kini api menjilati nama-nama kami/menyulamnya ke dalam serpihan.
(Munthir Abdul-Hur)
Babilon, kita mengenalnya sebagai kota kuno bersejarah. Kaisar Nimrod, penguasa paling kuat pertama, pemimpin berbagai bangsa dunia dengan satu bahasa yang bisa dimengerti seluruh manusia—dan karenanya mendapat julukan sang perkasa di bumi—suatu hari pada sekitar abad ke-2 SM memerintahkan rakyatnya mengumpulkan batu dan bata, mendirikan kota, dan membangun menara setinggi-tingginya yang puncaknya bisa menyundul langit: menara Babel. Allah murka akan keangkuhannya, lalu mencerai-beraikan bangsa ini hingga berbagai bangsa di dunia memiliki bahasa yang berbeda. Babilon sekian abad kemudian mencapai puncak keemasan di zaman Raja Nebukadnezar dengan militer dan agama sebagai kekuatan. Di zaman ini pula dibangun taman bergantung (the hanging garden) yang termasyhur itu dan konon memiliki teras-teras rumit, fitur air megah, dan tanaman mengambang.
Abad-abad berikutnya, oleh berbagai peristiwa perang, penjarahan, penaklukan, dan penghancuran, Babilon kuno akhirnya hanya tinggal puing. Babilon sebagai pusat peradaban, pusat ilmu pengetahuan, filsafat, sejarah, obat-obatan, matematika, almanak, astronomi, arsitektur, dan menjadi rute perdagangan terpenting dunia, seperti sudah hilang kemuliaan dan kejayaannya di masa lampu. Epos Gilgamesh, puisi epik dari Mesopotamia itu, lalu manusia setengah binatang Enkidu, dan si ratu cantik Isthar, juga sudah tak ada jejaknya setelah dulu beberapa salinan sastranya ditemukan di reruntuhan abad ke-7 SM di zaman Raja Ashurbanipal. Kini, hanya tampak satu-dua tentara menjaga situs itu.
Sedangkan Babilon “modern” adalah sebuah kota sebagaimana kota-kota di dunia pada umumnya –jaraknya sekitar 2 jam ditempuh dengan jalan darat dari Bahgad. Setelah jatuhnya pemerintahan diktator Saddam Hussein, Babilon kini sedang membangun dirinya dari puing-puing kehancuran akibat perang. Kota ini tampak miskin. Korupsi dan kronisme merajalela. Layanan publik buruk. Infrastruktur tak memadai. Jalan-jalan banyak yang belum diaspal. Debu bertebaran seperti di film-film koboi zaman dulu. Kendaraan tak ada yang mengkilat, semua tampak kotor oleh debu jalanan. Hotel dan restoran masih sedikit dan layanan buruk. Angkutan umum hampir tak terlihat. Sampah plastik di mana-mana. Juga banyak ruas jalan, masjid, dan lainnya yang ditutup dan dijaga tentara.
Namun, di tengah keterbatasan berbagai hal, toh sebuah festival budaya dengan tajuk “internasional” bisa digelar. Sejumlah sastrawan, pelukis, musisi, teaterawan, pembuat film dan seniman lainnya datang dari berbagai kota. Puluhan penyair dari berbagai negara seperti Mesir, Lebanon, Siria, Yaman, Iran, negara-negara Arab lain, juga dari Turki, Indonesia, Inggris, Jerman, Persia, Spanyol dan lain-lain tampil membacakan puisi dengan bahasa mereka masing-masing. Babilon modern seperti menjelma kembali jadi Babilon kuno, para penyair bersatu dalam satu bahasa: bahasa puisi. Puisi mampu menjadi jembatan komunikasi di antara komunitas bangsa-bangsa. Ada toleransi, rasa hormat-menghormati, dan nilai-nilai terdalam dari beragam budaya didialogkan. Pelisanan (pembacaan) puisi yang sudah menjadi andalan budaya sejak berabad-abad lalu dihidupkan kembali.
Adalah Dr. Ali Al Shalah, penyair kelahiran sebuah desa tak jauh dari kota kuno Babilon, penerjemah, wartawan dan juga anggota parlemen Baghdad, menemukan sebuah rumah peninggalan kuno Irak rusak yang di dalamnya ada ruang bawah tanah, dibelinya lalu diperbaiki. Di situ ia lalu mendirikan Yayasan Mesopotamia yang menaungi Rumah Budaya Babel yang kini menjadi pusat berbagai kegiatan budaya dan restorasi bangunan kuno Kota Babilon di mana salah satu kegiatannya adalah menyelenggarakan festival internasional Babilon ini. Festival ini sebetulnya sudah pernah ada di zaman Saddam Hussein, tetapi acara festival lebih banyak dipakai untuk kepentingan propaganda politik sang Presiden. Ketika Saddam jatuh, Ali didukung sejumlah lembaga-lembaga budaya dan kalangan akademisi menggagas festival yang lebih murni dan tak ditunggangi kepentingan lain.
Pada hari pertama festival, tanggal 21 Maret 2014, puisi dikumandangkan sebagai sebuah lagu kebebasan yang memungkinkan kita untuk membangun dunia menjadi lebih baik dengan menggunakan kata-kata sebagai alat ucap, sebagaimana pesan universal dari UNESCO yang mencanangkan tanggal tersebut sebagai Hari Puisi Dunia. Dr. Ali Al Shalah, direktur Babilonia festival yang juga direktur festival puisi Al Mutanabbi di Zurich, Swiss, itu mengatakan, “Pada hari ini kami di sini juga merayakan hari Ibu Irak. Ibu adalah pahlawan sejati semua peradaban. Melalui festival ini kami ingin merayakan era Babilonia baru, membawa seribu warna pencerahan dari tengah perjalanan gelap, merayakan era pengetahuan yang diperbarui. Kami ingin mendengarkan suara-suara kuno dan modern, karya-karya dari seniman yang masih baru maupun yang lebih berpengalaman. Kami mencari buku-buku baru dan menerjemahkan karya-karya asing. Kami ingin memberikan keramahan dan rangkulan akrab sebuah keluarga besar.”
Waktu bergerak bersamaan dengan mengalirnya air sungai. Efrat, yang dianggap ibu segala sungai di dunia; Sungai Thames di Inggris, Sungai Nil di Mesir, Sungai Karaj dan Jajrud di Iran, sungai kering Yaman yang sering disebut Saila, Sungai Neckar dan Swabia dari zaman Romawi kuno, sampai Sungai Mahakam, Memberamo, Bengawan Solo, Batanghari dan lainnya di Indonesia, semua konon adalah sungai yang berinduk pada Sungai Efrat. Di tepian Sungai Efrat itulah, Festival Babilon III digelar; pada musim semi dengan cuaca 20 derajat dan malamnya sering lebih dingin lagi, bersatu padu antara keindahan dan kontemplasi, persaudaraan, hidup baru, gairah masa depan, mimpi, martabat, toleransi, dan perdamaian bagi semua bangsa di dunia.
Pagi adalah acara pameran lukisan dan fotografi serta wawancara dengan media cetak dan elektronik, diskusi-diskusi di universitas serta tur yang dikawal ketat sejumlah penjaga keamanan yang sudah disiapkan panitia. Bagaimana pun bom bisa dijatuhkan setiap saat oleh kaum teroris dan acara internasional seperti ini, menurut seorang wartawan Irak, bisa saja merupakan sasaran empuk untuk menarik perhatian dunia.
Meski ada perasaan waswas, tetapi kami merasa cukup aman. Sepanjang acara lidah para peserta festival dimanjakan dengan sajian makanan Arab yang semuanya berbau kambing; mentega dari susu kambing, keju dari kambing, dan kebab alias daging dan hati kambing dengan potongan besar-besar dan tusuknya yang panjang terbuat dari besi. Temannya adalah roti panggang khubz, resep kuno Sumeria dari zaman ke zaman. Lalu, sayur-sayuran dimasak asam sebagai salad dan sup dengan peterseli, kunyit dan minyak wijen, dan penutup adalah teh Arab yang kental dan manis, tersaji di gelas mungil; sebuah penutup yang seperti mengunci perut kami.
Mulai sore di tengah suara kendaraan pedagang souq (pasar tradisional) yang letaknya bersebelahan dengan rumah budaya Babel, juga ada suara azan saat Magrib tiba, adalah acara sejumlah peluncuran buku dan pembacaan puisi. Malamnya dilanjutkan pembacaan puisi di pelataran di bagian dalam yang lebih hening. Lebih malam lagi ada pemutaran film. Tahun ini antara lain diputar film garapan Mohammad Aldaraji, In The Sands of Babylon, yang mendapatkan penghargaan sebagai film terbaik pada fesival film di Abu Dhabi. Sebuah film sedih dan bercerita tentang kekejaman perang pada periode Perang Teluk tetapi dikemas dengan indah dan puitis. Sutradara dan sejumlah pemain didatangkan sehingga menyedot perhatian masyarakat umum. Di malam lainnya diputarkan film-film pendek tentang anak-anak, yakni Lipstick, Nesmos Birds, War Canister, Children of War, dan Children of God.

Tak banyak perempuan hadir menyaksikan pertunjukan yang digelar malam. Kebanyakan kaum laki-laki. Tapi anak-anak dari kampung sekitar banyak yang datang. Mereka bahkan melihat penampilan para tamu non-Arab dengan pandangan lucu, jarang melihat orang asing. Begitu pun pada pertunjukan teater, pemeran perempuan hanya satu-dua orang saja. Jika tampil, tak ada dialog yang diucapkan. Seorang seniman perempuan dari Stuttgart yang datang setiap tahun pada festival ini mengatakan, “Perempuan di sini tidak boleh menari. Not allowed. Kalau ada acara menari, hanya saya satu-satunya perempuan yang menari,” katanya sambil tertawa.
Pada masa Presiden Saddam Hussein masih berkuasa, ia yang mengaku-ngaku sebagai anak Raja Nebukadnezar sempat memerintahkan agar kemegahan Babilon dibangun kembali. Di atas bukit tak jauh dari situs itu, ia sendiri juga membangun istana megah dengan ratusan kamar-kamar, ribuan meter persegi marmer, dan kamar mandi dengan pipa lapis emas, di tengah rakyatnya yang miskin, menderita dan serba kekurangan. Kini semuanya kosong, hanya tinggal bangunannya saja. Seluruh ruangan penuh debu, banyak kayu-kayu melintang tak terpakai, dan lantainya penuh kotoran burung. Melihat artefak Babilon kuno dan istana Saddam Hussein, kita membaca sebuah ketakabadian zaman gemilang, tentang keadidayaan dan kesewenang-wenangan. Sementara dari acara Festival Babilonia ini kita bisa membaca tentang apa yang disebut dengan semangat. Semangat menyelenggarakan festival sastra dan budaya di tengah serba keterbatasan, kemiskinan, kesedihan, situasi tak aman karena ancaman terorisme. Pembacaan puisi terasa merupakan acara yang paling memberi gairah bagi seluruh peserta.
Festival seni (sastra) idealnya barangkali juga mesti ada di setiap kota-kota di Indonesia. Hanya seni dan sastra yang mampu memberi jeda sesaat, untuk tuma’ninah, merenung, di setiap pemberhentian kita. Festival seni (sastra) akan menjadi sebuah periode pengalaman, menjauhkan diri sejenak dari lingkungan dan rutinitas biasa untuk bersama dalam suatu kelompok, berbagi rasa, memperbarui kehidupan, dan mengisinya dengan napas baru yang segar, agar lebih memberi daya hidup. Tidakkah demikian? ***
Dorothea Rosa Herliany, penyair
*) Tulisan ini pernah dimuat di Jawa Pos, 11 Mei 2014.

