Festival Internasional Al-Mutanabbi ke-13, Zurich (Swiss, 1—4 November 2014)
Dari Arab Sampai Ke Sumatra

“ARE you Al Mutanabbi?” pertanyaan seperti ini masih akan terdengar sampai hari ini dari anak-anak di jalanan di Baghdad, Cairo dan Damascus ketika seseorang menggunakan bahasa yang tinggi, bahasa penyair, bahasa yang indah dan bukan bahasa yang sudah sering dipakai sehari-hari. Demikianlah, Al Mutanabbi masih tetap hidup kendati sang penyair sudah wafat tahun 965. Di negara-negara Arab, semua orang tahu dia, lengkapnya bernama Abu at-Tayyib Ahmad ibn al-Husayn al-Mutanabbi. Dilahirkan di kota Al Kufah di Irak. Selama berabad-abad, hanya ada 2 buku di rumah-rumah orang-orang Arab, yang satu adalah kitab suci Al-Qur’an dan satunya lagi adalah buku puisi Al Mutanabbi, Diwan. Ia tak melulu penyair tapi dianggap sebagai seorang nabi bijak.
“Kalau kau lihat gigi singa saat ia menyeringai, jangan kau kira singa itu sedang tersenyum padamu.” Ini salah satu kata-kata terkenal dari Al Mutanabbi. Atau yang tampak lebih sederhana ini, “Pertempuran dan pedang, kertas dan pena” yang menunjukkan keberanian dan kekuatan dalam sebuah pertempuran, sebagai warisan sekaligus kebanggaan dalam warisan Arab. Ini baris puisinya yang lain, “Oh, pedang yang tidak pernah disarungkan, padamu tidak dapat diragukan tak ada perlindungan,“ tentang rasa hormat, persahabatan, keberanian dan kegagahan.
Sejak tahun 2000 sejumlah penyair, seniman, penulis, wartawan dan penerjemah Arab menggagas sebuah pusat kebudayaan Swiss-Arab (Swiss Arab Cultural Centre) di Zurich. Ini menjadi komunitas kebudayaan Arab terbesar di Eropa. Dengan mengambil nama penyair besar Arab itu mereka bermaksud menggali kembali puisi dari dalam ceruknya dengan menyelenggarakan festival puisi setiap tahun, demikian seperti dikatakan direktur festival ini, Ali Al-Shalah. Direktur festival yang juga seorang penyair, penerjemah, wartawan, dan sekaligus anggota DPR asal Irak yang berkaki di 2 negara, Bagdad dan Zurich ini mengatakan, “Sekarang dunia terlalu penuh dengan politik. Sudah saatnya kita kembali ke warisan lama, sebuah bentuk awal sastra Arab, karya sastra paling tua: puisi.”
Tahun ini festival memasuki tahun ke-13, di angka yang juga mereka anggap “sial” ini panitia mengundang sebuah nama besar, Adonis! Sehari setelah festival selesai, wajah Adonis terpampang di headline koran terbesar dan tertua di Swiss, Neue Zürcher Zeitung. Di situ penyair (tahun ini berusia 83 tahun) yang bernama asli Ali Ahmad Said Esber yang sudah beberapa kali dicalonkan sebagai penerima Nobel sastra itu antara lain mengatakan “Sebuah teks pada akhirnya tergantung pembacanya. Jika dibaca dalam semangat keterbukaan, ukuran dan kemanusiaan, maka ia akan menjadi teks yang besar; jika tidak, ia akan menjadi kecil, termasuk dalam hal ini Al Quran.”
Adonis, penyair asal Suriah yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang “eksil permanen” ini memang dikenal sebagai penyair Arab paling provokatif dan paling berani. Dalam wawancara khusus dengan wartawan dalam rangkaian acara the 13th International Festival Al-Mutanabbi ini, ia juga sempat menyinggung kembali ketidaksetujuannya akan dikotomi Timur dan Barat. “Di mana perbedaan antara Hafez dan Goethe ketika kita bicara tentang kreativitas, ketika kita membandingkan Zaha Hadid dan Mario Botta? Globalisasi jelas telah membuat kesetaraan. Dan di negara-negara Arab puisi masih menjadi hal penting. Di Barat, bagaimanapun, banyak orang menyerah pada kekuatan internet, gambar-gambar, industri hiburan, media massa, perubahan dalam pemahaman budaya, pembaca jauh dari proses kreatif. Tapi saya pikir selama cinta ada—asalkan ada cinta—akan ada puisi,“ katanya mengakhiri dengan nada penuh harapan meski kondisi Suriah hingga kini masih banyak terjadi tindak kekerasan yang kejam dan tak berperikemanusiaan.
Adonis sudah pernah datang ke Indonesia tahun 2008 dan berceramah tentang agama dan puisi di komunitas Salihara. Puisinya sudah ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia dan sudah diterbitkan beberapa tahun lalu. Salah satunya saya petik di sini:
“Telah kita usap tubuh bumi dengan bulu mata, telah kita ikat kembang-kembang yang terbang dengan buluh nadi, telah pula kita basuh siang hari. Inilah jalan-jalan kita—kita nikahi halilintar, kita penuhi bumi dengan teriakan benda-benda baru.”
Penyair terkenal lain yang datang adalah Eugen Gomringer. Ini adalah penyair gaek usia 88 tahun asal Swiss yang dijuluki bapak puisi konkret. Sebelum membacakan sajak-sajaknya, ia sempat bergurau, “Saya bangga dengan ini (menunjuk ID-card terbuat dari kertas agak tebal dilapisi plastik, tanda pengenal biasa saja, desainnya juga biasa, pemberian panitia yang dia sematkan di dada) dan saya sengaja jalan-jalan ke kota dengan memakai emblem ini,“ katanya yang membuat “gerr“ yang hadir pada malam dingin musim gugur itu. Beberapa penghargaan pernah diberikan ke penyair ini. Yang terakhir tahun 2011 ia mendapat penghargaan Alice Salomon Puisi Prize di Berlin. Antara lain ia membaca, “dari tepi/ dalam//dalam/ke pusat//melalui pusat/tengah//ke luar/ke tepi”. Menurutnya puisi konkret adalah bentuk sastra di mana susunan kata-kata sebuah puisi pada halaman yang dicetak itu sama penting dengan puisinya itu sendiri. Sebagai contoh, puisinya sendiri tentang angin menunjukkan huruf-huruf yang tersebar berserak seolah-olah dibawa angin.
Sumatra
Festival puisi yang diadakan di Zurich ini mengesankan sebagai festival yang santai dan penuh suasana kekeluargaan. Para penyair hanya harus datang di acara pada malam hari saja, yakni pada saat acara pembacaan karya. Selebihnya kami semua bisa menikmati sungai yang melintang di tengah kota yang kadang ada perahu melintas. Atau agak berjalan sedikit dari hotel tempat kami semua menginap ada danau berair tenang dengan angsa-angsa putih, burung camar dan phoenic yang terbang rendah di atas kepala. Tempat pembacaan puisi yang berlangsung di The theatre Stok juga mendukung suasana intim karena terletak di sebuah ruang bawah tanah yang tanpa ditata pun sudah tampak artistik dan tak perlu penanganan khusus untuk tata suara. Venue itu sudah memendarkan resonansi suara unik. Namun yang lebih penting, ada banyak waktu untuk menjalin komunikasi antarpenyair, itulah yang lebih berharga dari sebuah acara festival puisi.
Misalnya saja dari penyair berusia muda (29 tahun) asal Belgrad, yang juga seorang dosen filologi, Jan Krasni, saya baru tahu bahwa di negerinya, Serbia, banyak orang mengenal puisi berjudul “Sumatra”. Memang pulau Sumatra adalah pulau eksotis paling terkenal dan jadi angan-angan banyak seniman dunia dan orang Eropa zaman dulu. Namun di Serbia, kita tentu tak menyangka di negeri itu juga ada sebuah puisi tentang pulau di Indonesia itu. Puisi itu ditulis oleh Milos Crnjanski, penyair Serbia kelahiran 1893. Inilah puisi tersebut: Sekarang tak ada lagi yang kita pikirkan, ada yang terasa lembut dan lega/Mari kita hayati: kelengangan ini, salju, puncak pegunungan Ural// Jika kita merasakan kesedihan atas sosok pucat/saat beberapa malam kita merasakan kehilangan/kita tahu, entah dimana, anak sungai/bahkan semuanya, berwarna magenta, mengalir!// Cinta, suatu pagi di tanah asing/mengepung jiwa, makin rapat/dalam kedamaian laut biru yang tak berujung /berkilau karang kirmizi/seperti di tanahku yang jauh, dengan buah-buah ceri.//Kita terjaga di larut malam, senyum sayang/ke bulan yang bungkuk berlekuk/tangan kita menyentuh bebukitan di jauh, lembut/membelai gunung-gunung es.//

Puisi itu ditulis penyairnya tahun 1920. Pada awal Perang Dunia pertama Crnjanski adalah prajurit muda malang yang harus berada di garis depan Galisia melawan Rusia. Lalu ia juga ke Zagreb dan Belgrad. Ia banyak menghabiskan waktu sendirian di rumah sakit perang. Dalam sebuah catatannya mengenai puisinya itu, Crnjanski menulis, “Semua terjadi di stasiun di Zagreb … menatap jendela gelap, aku teringat pada seorang teman yang menggambarkan puncak bersalju Pegunungan Ural, di mana ia habiskan waktu setahun di sebuah kamp penjara … ia juga bercerita tentang kekasihnya. Aku hanya ingat ceritanya tentang wajah kekasihnya yang pucat dan diulangnya bagaimana pucat kekasihnya saat terakhir kali ia melihatnya …. Kereta baru saja mencapai puncak-puncak Frushka Gora. Beberapa cabang dahan mengetuk kaca jendela yang sudah rusak. Lembab, basah, aroma dingin pohon mulai memasuki kereta dan aku bisa mendengar kericik sungai. Kami berhenti di depan sebuah terowongan yang hancur …. Aku ingin melihat sungai yang terus menggemericik dalam kegelapan, dan aku mendapat kesan bahwa sungai itu berwarna ceria magenta. Mataku lelah kurang tidur lemah karena perjalanan panjang …. Kami harus memanjat terowongan di Chortanovci dan berjalan ke sisi lain …. Ketika kami akhirnya naik ke bukit, di bawah kita melihat sungai Danube, abu-abu, kabur. Semua kabut, di belakang ada firasat langit, tak terbatas, tiada habis. Hijau perbukitan, seperti pulau-pulau di atas tanah, yang lenyap di rekah fajar …. Dan pikiranku …. Biru laut, pulau-pulau terpencil yang tak pernah kutahu, tanaman merah dan karang, yang mungkin hanya kuingat dari geografi, semuanya terus melanting ke dalam pikiranku …. Letih, aku duduk di sudut suram, sendirian. Beberapa kali aku mengulang pada diriku sendiri: Sumatera, Sumatera! aku memikirkan: bagaimana tanah airku akan menyambutku? Ceri harus sudah masak di pohon, dan desa-desa yang penuh sukacita. Lihatlah, betapa bahkan warna, semua jalan ke bintang-bintang, sama belaka, pada ceri, pada karang! Ah bagaimana semuanya bisa terhubung di dunia ini. “Sumatera” – ucapku sekali lagi, mengejek pada diriku sendiri. Tiba-tiba aku gemetar. Beberapa kerusuhan dalam diriku …. Aku juga melihat bulan, berkilauan. Aku merasakan ketidakberdayaan dan kesedihan. ” Sumatera”, bisikku. Semua kerumitan berubah menjadi kedamaian dan pelipur lara yang tak berkesudahan.
Perang dan puisi ….
Akhirnya, pertanyaan klasik itu muncul lagi, seperti dilontarkan oleh wartawan dalam acara jumpa pers International Festival Al-Mutanabbi ini: dapatkah puisi mengubah dunia? Dan inilah jawaban Adonis, “Puisi tidak mengubah apa pun secara langsung. Tapi puisi bisa menyajikan sebuah citra baru atas dunia dan itu akan bisa membuat perubahan pada pembaca. Selanjutnya giliran pembaca itu sendiri, apakah mereka akan mengubah dunia.”
Dorothea Rosa Herliany, penyair
*) Tulisan ini pernah dimuat di jurnal Sajak, edisi 3 Maret 2014.

