Keberaksaraan bukanlah sekadar masalah melek huruf atau bebas buta aksara. Keberaksaraan berarti memahami dan memaknai buku sebagai dasar dari kebudayaan modern. Indonesia kini tengah berada pada momentum terbaik untuk menumbuhkembangkan keberadaban dan kemanusiaannya melalui dunia perbukuan.
Ditemukannya mesin cetak oleh Gutenberg yang memungkinkan terwujudnya pemassalan buku merupakan temuan dan hasil pemikiran manusia yang paling utama bahkan hingga saat ini, ketika manusia dijejali dengan inovasi dan revolusi iptek yang sangat dahsyat semacam komputer dan internet, DNA dan kloning, rekayasa genetika ataupun teori kuantum. Hal ini disebabkan karena bukulah yang pada dasarnya membentuk, membangun dan mengembangkan kebudayaan modern. Setiap hal baru yang muncul dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini tidak dapat dipisahkan dari peran buku sebagai media yang merekam dan mencatatnya sehingga kesinambungannya dapat terus dijaga.
Buku adalah jendela dunia dan jendela ilmu pengetahuan. Ketika matra dunia modern mendasarkan keunggulan manusia atas makhluk lain adalah pada akal yang dimilikinya, buku menjadi bagian inti dari keberakalan tersebut. Dalam psikologi dikenali adanya berbagai kecerdasan yang dimiliki manusia. Di antara berbagai kecerdasan itu adalah kecerdasan bahasa, logika, visual, auditoris, kinestetis, komunikasi verbal, spiritualitas, dan banyak lagi. Buku secara nyata mampu merangkum sebagian besar kecerdasan tersebut, memunculkan, menumbuhkan, mengembangkan, dan sekaligus merekamnya.
Melalui tulisan, manusia dapat merekam pilahan-pilahan dan pilihan-pilihan pemikiran mereka dalam berhadapan dengan dunia real dan dunia gagasan. Rekaman-rekaman dalam bentuk tulisan tersebut dapat mengatasi distorsi ruang dan waktu secara maksimal sehingga memungkinkan adanya penyebaran gagasan yang dapat menggapai lebih banyak pembaca. Hal ini berlanjut dengan kemunculan respon-respon yang seide, melanjutkan, menolak, melawan, ataupun berpadu-padan dengan gagasan lain yang sama sekali berbeda.
Meskipun ada suatu ungkapan yang mengatakan bahwa dunia tak bisa secara sempurna diungkapkan dengan kata-kata, jelas bahwa kata-kata tertulis, buku, adalah media terbaik dalam merangkum keberakalan dan keberadaban manusia. Buku memungkinkan keterjalinan berbagai wacana dalam kehidupan manusia; merekam dan menyebarkannya, menyelamatkannya dari kemungkinan kelenyapan dan keterlupaan.
Keberaksaraan Indonesia
Dengan peranannya yang demikian besar dalam kebudayaan modern, buku bisa jadi masih menjadi benda asing yang terpinggirkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kita tidak memberikan tempat yang layak bagi ingatan tentang betapa di masa lalu, bahkan moyang-moyang kita bersedia menuliskan ilmu dan pengetahuannya di atas batu, kulit binatang atau kayu. Kita lupa bahwa para perintis pergerakan kemerdekaan telah mempergunakan buku dan media massa tulis sebagai alat advokasi dan perlawanan mereka terhadap penjajah.
Pertanyaan yang harus diajukan adalah di manakah masyarakat Indonesia masa kini menempatkan buku dalam kebudayaan dan keberadaban mereka. Atau sebaliknya, dengan cara bagaimana buku harus bertransformasi dan memberikan peranannya dalam jejak langkah ilmu pengetahuan dan keberakalan manusia Indonesia modern.
Masalah paling mendasar dalam keberaksaraan kita adalah pada kuatnya tradisi lisan dan sejarah gelap dunia tulis dalam kebudayan kita. Norma dan etika sosial masyarakat belum menempatkan tulisan sebagai bagian dari keberadaban. Orang tidak bisa menyampaikan suatu pendapat atau pendirian pribadinya hanya dengan sebentuk tulisan ketika ia harus menyelesaikan satu urusan dengan pihak lain, misalnya. Atau bahwa surat undangan belum cukup memadai untuk mengundang orang lain, apalagi seorang tokoh. Bahkan bisa jadi surat keputusan pengadilan, teks tertulis berkekuatan hukum, tidak memiliki kekuatan apa-apa ketika dihadapkan dengan senjata.
Dalam aspek yang berbeda, kelisanan ini ditunjukkan dengan kegemaran masyarakat untuk menonton pembacaan puisi atau cerpen dibandingkan dengan membaca dan menikmati bukunya. Masyarakat juga menerima begitu saja dubbing atas film-film asing di televisi dan abai pada kejanggalan estetis dan kultural yang terjadi karena proses sulih suara ini dibandingkan dengan sistem penerjemahan dalam bentuk teks tertulis. Kita juga bisa melihat kekusutan nasib buku dan media massa tulis dengan membandingkan perhitungan nominal, yakni bahwa nilai belanja media massa kita tidak lebih dari seperlima belanja rokok. Bahwa kaset lagu pop bisa terjual lima ratus ribu buah hanya dalam waktu satu minggu, kemudian lebih dari satu juta kaset dalam waktu tiga bulan, sedangkan buku puisi bisa laku seribu sampai tiga ribu eksemplar dalam waktu setahun sudah biasa disyukuri oleh para penerbit. Juga dalam hal perbandingan jumlah judul buku yang terbit tiap tahun tidak pernah bisa melebihi jumlah pub, restoran, dan tempat-tempat hiburan lainnya. Hidup mungkin memang lebih nikmat jika dilewati dengan duduk-duduk di sebuah kafe sambil menghisap sebatang rokok dan mendengarkan suara merdu mendayu seorang penyanyi molek yang menggemaskan.
Dalam tataran yang lebih mendalam, buku dan tradisi tulis kebudayaan nusantara memang melewati banyak kekelaman sejarah. Ketika zaman kerajaan-kerajaan, buku ditempatkan sebagai bagian dari mitos. Kitab-kitab ditulis oleh dan untuk raja, bangsawan dan kaum berkasta tinggi lainnya sebagai bagian dari legitimasi kekuasaan dan hegemoni ilmu pengetahuan mereka di atas kebodohan rakyat kebanyakan. Ketika kolonialisme Barat ganti berkuasa, buku menjadi barang haram yang harus dibatasi, diatur dan ditertibkan keberadaannya. Bangsa Barat itu tahu bahwa buku adalah alat yang mencerdaskan, yang membuat orang mengerti ketertindasan dan hak asasi mereka untuk merdeka. Ini terbukti nyata dengan keberadaan dan peran pers-media cetak dan buku-buku manifesto politik yang digunakan sebagai alat perjuangan terpenting dari setiap perkumpulan dan organisasi di masa perintisan kemerdekaan Indonesia.
Ternyata kemerdekaan dan terbentuknya negara republik Indonesia tidak menjadikan buku berada dalam posisi yang lebih baik. Buku belum lagi menjadi bagian dari keberakalan manusia yang mendasari kehidupan modern ini. Lebih dari itu, buku tetap ditempatkan dalam posisi sempitnya sebagai bagian dari hegemoni kekuasaan dan politik. Kebijakan ini terutama dilakukan oleh pemerintahan orba dengan pembredelan media massa, pelarangan buku-buku, bahkan penulisan sejarah yang disimpangkan.
Reformasi dan Buku Kiri
Dan kemudian Indonesia mengalami amukan badai yang mengerikan. Krisis terjadi di segala bidang kehidupan: moneter, ekonomi, politik, sosial, etnisitas, budaya, dan sebagainya. Reformasi yang menumbangkan pemerintahan militeristik orba ternyata tidak berarti segera mewujudkan situasi yang kondusif bagi kehidupan yang lebih baik, lebih demokratis dan manusiawi, adil dan makmur. Tetapi, bagaimanapun juga optimisme untuk melewati cobaan ini harus terus ditumbuhkan. Daya hidup yang senantiasa ada di tengah-tengah masyarakat harus tetap dipelihara dan dikembangkan. Juga dalam dunia perbukuan.
Seperti melawan asumsi yang selama ini ada, bahwa budaya baca dan keberaksaraan masyarakat belum memiliki pondasi yang kokoh dan menggembirakan, dunia penerbitan mengalami kebangkitan yang luar biasa di masa krisis ini. Seiring dengan kehancuran belenggu represi dan hegemoni pemerintah, media massa cetak dan penerbitan buku banyak bermunculan membawakan keberagaman visi dan aspirasi masyarakat. Buku sebagai dasar kebudayaan modern menemukan peran dan posisi yang sesungguhnya di tengah pergulatan mengatasi krisis kehidupan yang terjadi di berbagai bidang. Hal ini terlihat dari munculnya banyak penerbit baru, keberagaman tema buku yang diterbitkan, lahirnya pengarang-pengarang muda, dan larisnya buku-buku terjemahan. Lepas dari perdebatan idealistik visi penerbit dan mutu buku yang banyak diterbitkan, fenomena ini adalah sesuatu yang menggembirakan. Awal keruntuhan pemerintahan orba menjadi titik mula kemunculan buku-buku yang mengangkat wacana politik. Tema sensitif yang pada masa lalu diharamkan ini kemudian jadi barang yang digandrungi. Pandangan kritis atas politik pemerintahan Suharto dan tinjauan ke depan seiring dengan eforia reformasi yang diharapkan dapat mewujudkan masyarakat ideal yang demokratis dan berkeadilan merupakan tema utama buku-buku pada masa awal kebangkitan dunia perbukuan.
Fenomena ini berlanjut dengan diterbitkannya buku-buku bertema Kiri. Masyarakat yang sekian lama tidak berdaya di bawah represi pemerintahan orba seakan mencari jalan untuk menunjukkan perlawanan dan kebebasannya. Begitulah, meski ketetapan MPRS yang melarang penyebaran ajaran Marxisme-Leninisme atau komunisme masih berlaku dan Kejaksaan Agung belum mencabut larangan atas pengedaran buku-buku yang dianggap Kiri seperti karya-karya Pramoedya Ananta Toer, buku-buku semacam itulah yang banyak diterbitkan dan bebas ditemui di toko-toko buku.
Sejalan dengan kerasnya aroma politik, masyarakat ternyata juga makin memperluas wacana bacaan mereka. Maka muncullah fenomena Kahlil Gibran yang puluhan judul karyanya diterjemahkan dan diterbitkan dalam berbagai versi. Semuanya laris manis dan menjadi kayu bakar pertumbuhan banyak penerbit baru. Setelah itu, keberagaman sungguh-sungguh berjalan dengan bebas dalam dunia perbukuan. Para pembaca baru itu melahap apa saja yang dimunculkan oleh penerbit-penerbit: novel-novel Naquib Mahfouz, sufisme, agama, serial Chicken Soup, komik Jepang, novel anak Harry Potter, kumpulan cerpen, kiat-kiat praktis manajemen dan pemasaran, psikologi populer, buku-buku sastra dari para penulis perempuan, juga buku-buku dari dunia pendidikan dan feminisme.
Simpul ke Depan
Momentum bagi dunia perbukuan Indonesia telah muncul di tengah-tengah masyarakat. Minat baca dan daya beli yang mulai berkembang, kebebasan penerbit memunculkan wacana baru, dan jumlah penduduk yang dua ratus juta lebih yang masih sangat terbuka untuk dikembangkan sebagai pembaca potensial harus bisa menyalakan optimisme atas eksistensi buku sebagai dasar keberadaban dan kebudayaan modern.
Pada masa awal kebangkitan ini, ada banyak catatan yang bisa kita peroleh. Misalnya pada persaingan yang cenderung kasar di antara penerbit dengan tiadanya penghormatan atas copy-right, rendahnya penghargaan terhadap penulis, penerjemah dan pekerja penerbitan, belum tergarapnya distribusi, dan lain sebagainya. Masyarakat juga masih harus banyak belajar dalam hal penerimaan terhadap keberagaman jenis buku dan pembelajaran diri hidup di alam demokrasi: pilihan yang beragam juga berurusan dengan toleransi, keluasan wawasan dan wacana bacaan yang mesti makin berkualitas.
*) Tulisan ini pernah dimuat di Matabaca Vol. 1/No. 12, Agustus 2003.


