
Jauh di kedalaman tidur, mimpi kanak-kanakmu melekap, melekat, tak mau berpisah dari kisah-kisah masa lalu yang kelak enggan kauingat. Maka, mimpi kanak-kanak itu pun berpegang bergelantungan pada lengan Hoja, memaksa lelaki dari Akshehir itu tak balik pulang ke dunia nyata.
Namun Hoja, yang di dunia nyata memang kaukenal sebagai tukang cerita, seperti biasa, lugu berkata, “Lalu eh, bila selamanya aku berada di dalam mimpimu, bagaimana aku bisa dikenal sebagai Nasruddin?”
Kau pun tertegun, terdiam, tak bisa membantah Hoja. Maka, dengan perasaan sangat jengkel, engkau, engkau kanak-kanak itu, memutuskan untuk memilih hanya seratus dari lebih seribu kisah. Pekerjaan tak mudah. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, “si seratus” akhirnya terpilih; dan engkau pun remaja.
Saat kembali membaca “si seratus”, tak mudah bagi engkau remaja untuk menerima keseratus kisah itu, dan memutuskan untuk memilih hanya sepuluh. Pekerjaan yang tambah tak mudah. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, “si sepuluh” akhirnya terpilih; dan engkau pun dewasa.
Saat kembali membaca “si sepuluh”, tak mudah bagi engkau dewasa untuk menerima kesepuluh kisah itu, dan memutuskan untuk memilih hanya satu. Pekerjaan yang tambah-tambah tak mudah. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, “si satu” belum juga terpilih. Bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, “si satu” masih tetap belum terpilih.
Dan kau tiba-tiba sadar: telah tua. Dan, tak kalah jengkel dibanding ketika kau kanak-kanak dulu, engkau tua pun tak peduli. Lalu melupakan. Ditulis atau tidak, dikisahkan atau tidak, terserah Hoja.
(English Translation)
Deep in the layers of sleep, your childhood dream clung and latched on, refusing to part from the stories of the past that you would one day hesitate to remember. So that childhood dream hung tightly from Hoja’s arm, forcing the man from Akshehir not to return to the waking world.
But Hoja—whom in the real world you know as a storyteller—as always, spoke with simple innocence: “Well then, if I remain in your dream forever, how will people ever come to know me as Nasruddin?”
You froze, silent, unable to argue with Hoja. So, in a fit of childish irritation, you—the child you once were—decided to choose only a hundred from more than a thousand tales. Not an easy task. Months passed, then years, until “the hundred” was chosen; and you became a teenager.
Reading “the hundred” again, your teenage self found it no easier to accept all hundred, and decided to choose only ten. A task even harder than before. Months passed, then years, until “the ten” was chosen; and you became an adult.
Reading “the ten” again, your adult self still found it difficult to accept all ten, and decided to choose only one. A task harder still. Months passed, then years—yet “the one” remained unchosen. Years and decades passed, and still “the one” remained unchosen.
And suddenly you realized: you had grown old. And, no less irritated than when you were a child, your old self no longer cared. You let it go. Written or unwritten, told or untold—it was up to Hoja.

