
(Original Bahasa Indonesia)
Orang-orang menyebutnya Aleksander, tetapi kau lebih suka menyebutnya dengan nama yang kaukenal saat ia masuk ke mimpi kanak-kanakmu: Al-Iskandar. Apa yang tidak luar biasa dari Al-Iskandar?
Saat orang tuanya menikah, ibunya bermimpi rahimnya disambar petir dan cahaya lalu memancar menyembur-nyembur menerangi alam raya. Beberapa malam kemudian, ayahnya juga bermimpi bagai menimpali mimpi si ibu. Dalam mimpi itu, si ayah melihat dirinya menyegel rahim sang istri dengan segel berukir singa.
Apa yang tidak luar biasa dari Al-Iskandar? Saat dewasa kelak, ia menyebut dirinya keturunan dewa. Dari pihak ayah ia mengklaim diri keturunan Herakles dan dari pihak ibu ia mengklaim diri keturunan Akhilles. Dalam mimpi kanak-kanak itu, kau melihat bagaimana Al-Iskandar beranjak: belajar bertarung seraya bermain lira, belajar berburu seraya membaca.
Kaulihat juga, ia menundukkan si Kepala Lembu, kuda yang tak siapa pun bisa menunggangi, pada usia 10 tahun. Pada usia 13, karena tak siapa pun bisa menghadang deras tanya di kepalanya, si ayah mendatangkan seorang filsuf sebagai guru. Filsuf, yang kaukenal sebagai penemu 10 jenis kata, itu dibayar ayahnya dengan membangun kembali kampung si filsuf yang pernah dihancurkan oleh si ayah.
Dari si filsuf, Al-Iskandar menemukan apa yang ia suka: sebuah buku karya seorang penyair buta. Dari si buku, ia tahu apa yang paling ia nikmati: geletar perang yang merayap, menjalar, merambat naik dari telapak kaki ke ubun-ubun. Apa yang tidak luar biasa dari Al-Iskandar?
Dalam mimpi kanak-kanakmu, kau melihat peristiwa itu, saat pertama, pada usia 16, si ayah berangkat perang dan Al-Iskandar menjaga takhta. Pemberontak dari Trakia dan Al-Iskandar menumpasnya. Dan mulailah, dengan mengantongi buku si penyair buta, orang yang kemudian menyebut dirinya keturunan dewa itu merambah, menghamun, menakluk menundukkan dunia.
Apa yang tidak luar biasa dari Al-Iskandar? Ia mendaulat dirinya “Raja Babilonia, Asia, dan Empat Sudut Dunia”. Pada usia 32, di Babilonia juga, ketika kau kemudian terbangun dari mimpi kanak-kanakmu, kaudapati keturunan dewa itu mati, digigit nyamuk.
(English Translation)
People call him Alexander, but you prefer the name he carried when he first stepped into your childhood dream: Al-Iskandar. And truly, what isn’t extraordinary about Al-Iskandar?
When his parents married, his mother dreamed that her womb was struck by lightning—a blaze bursting forth, flooding the universe with light. A few nights later, his father dreamed as if to answer her vision: he saw himself sealing his wife’s womb with a sigil carved with the face of a lion.
And what isn’t extraordinary about Al-Iskandar? When grown, he claimed descent from gods—from Heracles on his father’s side, from Achilles on his mother’s. In that childhood dream of yours, you saw Al-Iskandar rise: learning to fight while plucking the strings of a lyre, learning to hunt while reading.
You saw him, too, subdue the Bull-Headed One—the horse no one could tame—at the age of ten. And at thirteen, when no one could hold back the torrent of questions storming in his mind, his father summoned a philosopher. A philosopher you knew as the discoverer of ten kinds of words. He was paid by having his ruined village rebuilt, destroyed long ago by the king himself.
From that philosopher, Al-Iskandar found what delighted him most: a book by a blind poet. And from that book, he discovered what stirred him deepest—the tremor of war crawling, creeping, climbing from the soles of his feet to the crown of his head. What isn’t extraordinary about Al-Iskandar?
In your childhood dream you witnessed that first moment: when at sixteen, his father marched to war, and Al-Iskandar guarded the throne. The rebels of Thrace rose—and he crushed them. And so began the journey of the man who called himself a descendant of gods, book of the blind poet in his hand, as he swept across the world, ranging, conquering, subduing.
What isn’t extraordinary about Al-Iskandar? He declared himself “King of Babylon, of Asia, and the Four Corners of the Earth.” And at thirty-two—in Babylon as well—when you finally awoke from that childhood dream, you found that the god-born man had died, bitten by a mosquito.

